Dicaci Anaknya Sendiri Karena Soal Makan, Nenek Ini Tak Henti Menangis

 


Selama puluhan tahun, tak ada yang tahu siapa namanya, orang-orang hanya memanggilnya ‘Janda’ .

Katanya anak laki-laki bisa menjaga dan merawat kita di kala tua, jika punya satu anak laki-laki, dia tidak akan begitu sengsara, sayangnya ketiga anaknya perempuan.

Demi anak-anaknya, ia bekerja keras sepanjang waktu, membesarkan mereka dengan susah payah hingga ketiganya berkeluarga.

Seiring perjalanan waktu, ia pun menua. Rambutnya memutih, kulitnya keriput dan kendor seperti kertas kusut. Dan juga dia mulai sering sakit-sakitan.

Keinginannya hanya satu, mewariskan barang berharga tersebut kepada salah satu dari ketiga anaknya.

Dia ingin memberikan benda itu kepada putrinya yang paling berbakti, dengan begitu ia baru bisa pergi dengan tenang.

Tapi, siapa yang paling berbakti diantara ketiga putrinya?

Paginya, ia pergi ke rumah putri sulungnya, Rosa. Rosa menikah dengan pria yang lumayan kaya di desa.

Melihat ibunya datang, Rosa menyiapkan semangkuk bubur dan sayur asin untuknya.

Dia hanya makan sekadarnya, lalu pergi.

Ketika dia hendak meninggalkan rumah putri sulungnya itu, dia bertemu dengan cucunya.

“Nek, ayo masuk ke rumah, kita makan, Mama bilang hari ini masak daging sapi,” kata cucunya.

“Nenek sudah makan, kalian saja yang makan, ya, ” jawabnya, dan dalam hatinya merasa kecewa.

Kemudian dia pergi ke rumah putri keduanya, Sely, suami Sely juga lumayan baik secara ekonomi dan pekerjaannya juga lancar.

Namun, tampaknya Sely tidak begitu senang melihat ibunya datang mengunjunginya.

Sely memberi ibunya sayur sisa, roti dan air hangat untuknya.

Dia merasa diperlakukan seperti pengemis.

Dia hanya makan beberapa suap sambil meneteskan air mata, tapi Sely malah pura-pura tidak melihat sambil berkata, “Bu, sudah siang nih, lebih baik ibu segera pulang, nanti aku akan sibuk sekali begitu anak dan suamiku pulang.”

Dia mengangguk dan melihat Matahari di siang hari yang terik, lalu pergi dengan langkah kaki agak terhuyung.

Kemudian dia berjalan pergi, dan tanpa terasa langkah kakinya telah menuju ke rumah putri bungsunya, Vera. Keadaan Vera paling susah dibanding kedua kakaknya.

Tak terduga di rumah putri bungsunya, ia dapat hanya semangkuk air putih. 

Dia berpikir, semua darah dagingku memperlakukan aku seperti ini. Lebih baik jepitan emas ini aku bawa ke dalam peti mati saja.

Karena merasa kecewa dan hendak pulang, putri bungsunya itu mengeluarkan rendang daging sapi dan sayuran segar.

“Bu, malam ini ibu tidak usah pulang, ayo bu kita makan, ” kata putri bungsunya.

Dia tercengang melihat masakan yang disuguhkan putri bungsunya ini. Dia tahu persis kondisi putrinya yang susah tidak mampu membeli daging-dagingan. Paling pada saat tahun baru atau hari raya tertentu saja baru bisa makan daging.

Dia tersenyum sambil meneteskan air mata, lalu mengeluarkan jepitan rambut emas tersebut, lalu diselipkan ke rambut Vera, putri bungsunya.

”Nak, ini adalah barang terakhir yang bisa ibu berikan untukmu. Ibu tidak pernah rela menjualnya walaupun pada kondisi sulit dalam hidup ibu dulu. Barang inilah sesuatu yang mengingatkan ibu untuk terus melihat ke depan, dan masa-masa sulit akan terlewati selama ada usaha,” katanya

Vera mengangguk, ia teringat masa-masa sulit ketika bersama dengan kedua kakak dan ibunya dulu, dan tanpa terasa air matanya pun mengalir mengenang semua itu.

Dan beberapa pekan kemudian, si “Janda” itu pun meninggal dengan tenang, meninggalkan kehidupannya yang getir.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel